Month: June 2025

  • Kuliah Tamu : Sukses Berkarir di Dunia Industri

    Kuliah Tamu : Sukses Berkarir di Dunia Industri

    Surabaya, 28 Mei 2025. Program Studi Teknik Elektro, kembali menghadirkan kuliah tamu inspiratif dengan tema “Suskes Berkaris di Dunia Industri”. Acara ini menghadirkan Riza Prasetya Wicaksana, S.T., Managing Director PT. Kosmetika Global Printing & Packaging, yang membagikan pengalaman serta strategi penting untuk membangun karir yang gemilang di dunia industri manufaktur.

    Salah satu poin penting yang disampaikan dalam sesi kuliah ini adalah pentingnya mengelola pendapatan pribadi sejak dini. Mahasiswa diajak untuk memahami bahwa gaji bukanlah uang jajan, melainkan bentuk tanggung jawab sekaligus sarana mencapai tujuan keuangan.

    Tips dari sesi ini:

    • Terapkan aturan 50-30-20:
      50% untuk kebutuhan pokok, 30% gaya hidup, 20% untuk masa depan dan dana darurat.

    • Bangun kebiasaan investasi, bukan sekadar mengikuti gaya hidup.

    • Gunakan gaji untuk naik level, seperti ikut kursus dan sertifikasi.

    Selain berbicara tentang kesiapan menghadapi dunia kerja, pembicara juga mengajak mahasiswa untuk mengenali karakteristik berbagai sektor industri yang bisa menjadi pilihan karier. Perbandingan ini meliputi:

    AspekManufakturJasa (Konsultan/Finance)PemerintahanStartup
    Gaji PokokStabil, KompetitifVariatif, Bisa tinggiTetap, Mengikuti aturan negaraBisa rendah di awal
    Bonus/InsenstifAda, berbasis targetTinggi untuk high-performersSangat terbatasTergantung performa tim/perusahaan
    TunjanganLengkapStandar  
    Stabilitas KerjaTinggiTergantung industri & performaSangat StabilFlluktuatif
    Jam KerjaTeratur, shiftFleksibel, sesuai klien 8-4, relatif tetapTidak tentu, ekstrem
    Jenjang KarirJelas & bertahapKompetitif, akuntabilitasAdministrasi dan birokratisCepat, tapi tidak pasti
    Pembelajaran & SkillTeknis, sistematik,disiplinKomunikasi, analisis, presentasiAdministrasi, regulasiMultitasking, inovasi, adapatif

    Perbandingan ini penting agar mahasiswa tidak hanya melihat angka gaji, tetapi juga mempertimbangkan stabilitas, jenjang karier, hingga budaya kerja yang cocok dengan kepribadian mereka.

    Pak Riza membagikan kisah perjalanan kariernya di dunia industri, mulai dari awal karier hingga kini memimpin sebuah perusahaan besar. Beliau menekankan pentingnya:

    • Kedisiplinan dan konsistensi kerja

    • Membangun personal branding dan soft skill

    • Kepedulian terhadap efisiensi, produktivitas, dan inovasi

    Mahasiswa diajak untuk tidak hanya fokus pada IPK, tapi juga aktif membangun jaringan, mengikuti pelatihan, dan terlibat dalam kegiatan organisasi yang mampu membentuk karakter serta mentalitas kerja yang tangguh.

    Kuliah tamu ini menjadi pengingat dan motivasi bagi seluruh mahasiswa Teknik Elektro bahwa sukses di dunia kerja tak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tapi juga oleh kesiapan mental, manajemen keuangan, dan pemilihan jalur karier yang tepat.

    Ingatlah: Gaji yang baik bukan tujuan akhir, tapi sarana untuk tumbuh dan berkembang. Jadi, kelola pendapatanmu dengan bijak, dan pilih karier dengan cermat!

     

     

  • Peran Teknik Elektro dalam Menciptakan Robotik untuk Penyelamatan dan Kemanusiaan

    Peran Teknik Elektro dalam Menciptakan Robotik untuk Penyelamatan dan Kemanusiaan

    Di balik layar bencana dan kekacauan, ketika waktu menjadi musuh dan keselamatan manusia berada di ujung tanduk, hadir teknologi yang tak hanya canggih tapi juga berjiwa: robot penyelamat. Mereka menelusuri reruntuhan, menyisir medan berbahaya, dan menjangkau lokasi yang mustahil diakses manusia. Dan di jantung dari semua kecanggihan ini, berdiri teknik elektro sebagai pendorong utama misi kemanusiaan yang modern.

    Teknik elektro tidak hanya menghadirkan rangkaian kabel dan komponen—ia merancang sistem penginderaan yang mampu mendeteksi detak jantung di bawah puing-puing, menciptakan aktuator yang memungkinkan gerakan fleksibel di medan yang tidak rata, hingga menyuplai daya efisien agar robot dapat bertahan di area yang tak memiliki infrastruktur energi sama sekali. Dari sensor ultrasonik hingga sistem komunikasi wireless, dari pemrosesan sinyal hingga kendali gerakan berbasis AI, semua adalah hasil dari pemikiran elektro yang dirancang untuk menyelamatkan.

    Contoh nyata kekuatan ini terlihat dalam robot penyelamat bernama “Quince” yang dikembangkan oleh Chiba Institute of Technology di Jepang. Setelah bencana nuklir Fukushima, Quince menjadi salah satu robot pertama yang dikirim untuk memantau radiasi di dalam reaktor yang rusak, menggantikan risiko manusia. Dengan desain berbasis teknik elektro dan sistem navigasi otonom, ia mampu menjelajahi area penuh puing dan mengirimkan data visual serta suhu secara real-time ke tim peneliti di luar zona merah.

    Teknik elektro juga memainkan peran penting dalam pengembangan robot penyelamat yang dilengkapi thermal imaging, detektor suara, hingga sistem pemetaan 3D. Dalam misi pencarian korban gempa di Turki, misalnya, robot-robot kecil beroda dan berkaki—dilengkapi kamera inframerah dan sensor suhu—dikerahkan untuk mendeteksi kehidupan di bawah reruntuhan. Sistem kendali robot ini menggunakan embedded system dan komunikasi nirkabel yang dirancang untuk stabil dalam situasi interferensi tinggi, menunjukkan bagaimana presisi elektro menjadi penyelamat diam-diam.

    Selain bencana alam, robotik penyelamat juga digunakan di zona perang atau daerah konflik kemanusiaan. Di Palestina dan Ukraina, teknologi drone berbasis elektro digunakan untuk mengirim bantuan medis ke daerah yang terisolasi, atau membantu pasukan SAR mengidentifikasi jalur aman. Dengan integrasi sistem power management dan navigasi berbasis GPS serta sensor LIDAR, robot-robot ini tak hanya cepat, tapi juga cerdas dan akurat.

    Namun seperti teknologi lainnya, tantangan tetap ada: mulai dari daya tahan baterai, kompleksitas integrasi sensor, hingga keterbatasan adaptasi di lingkungan yang tak terduga. Di sinilah peran teknik elektro menjadi dinamis—bukan sekadar membangun sistem, tapi juga mengoptimalkannya untuk konteks ekstrem yang tak bisa diprediksi oleh laboratorium. Inovasi seperti pemanfaatan energi surya, pemrosesan sinyal rendah daya, hingga komunikasi mesh yang mandiri menjadi langkah-langkah baru yang terus dikembangkan.

    Pada akhirnya, peran teknik elektro dalam menciptakan robot penyelamat bukan hanya soal teknologi. Ia adalah tentang harapan. Tentang bagaimana sains bisa menjadi perpanjangan tangan kemanusiaan, hadir di tempat yang paling membutuhkan, dan bekerja di saat manusia tak mampu lagi menjangkaunya. Karena di balik setiap kabel, sensor, dan sinyal listrik, ada satu tujuan: menyelamatkan hidup.


    Referensi Ilmiah
    1. Tadokoro, S., et al. (2013). Rescue Robotics: DDT Project on Robots and Systems for Urban Search and Rescue. Springer.
    2. Murphy, R. R. (2014). Disaster Robotics. MIT Press.
    3. Yuta, S., et al. (2012). Development of the QUINCE robot for rescue missions in nuclear disaster. Advanced Robotics Journal.
    4. Ohno, K., et al. (2010). Field experiments of tele-operated tracked vehicles for search and rescue in rubble. Journal of Field Robotics.
    5. Kim, Y., & Park, J. (2019). Smart robotics system for detecting life signs in disaster zones. Sensors and Actuators A: Physical.
  • Green Robotics dan EV: Teknologi Ramah Lingkungan Berbasis Teknik Elektro

    Green Robotics dan EV: Teknologi Ramah Lingkungan Berbasis Teknik Elektro

    Ketika dunia berpacu menuju netralitas karbon, sains dan teknologi berperan sebagai pendorong utama dalam menciptakan solusi berkelanjutan. Di garis terdepan inovasi ini berdiri dua kekuatan besar: green robotics dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV), keduanya dibangun di atas fondasi teknik elektro yang kian canggih dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

    Green robotics bukan hanya soal robot yang hemat energi. Lebih dari itu, ini adalah pendekatan holistik untuk merancang sistem robotik yang memiliki dampak lingkungan minimal—mulai dari pemilihan bahan baku yang dapat didaur ulang, hingga algoritma kontrol yang efisien secara energi. Robot pembersih laut, robot inspeksi tenaga surya, hingga robot pertanian yang bekerja tanpa emisi, semuanya adalah perwujudan konkret dari prinsip ini.

    Teknik elektro hadir sebagai tulang punggung di balik semua itu. Perancangan motor listrik efisiensi tinggi, sistem pengendalian tegangan rendah, hingga optimalisasi konsumsi daya pada mikrokontroler menjadi bagian dari solusi teknis yang memungkinkan green robotics beroperasi lebih cerdas dan hemat daya. Dalam implementasinya, robot-robot ini menggunakan sensor yang mendeteksi kebutuhan energi secara real-time, dan secara adaptif mengatur pola kerjanya untuk menghindari pemborosan.

    Demikian pula pada kendaraan listrik, teknik elektro memainkan peran utama. Dari sistem pengisian cepat berbasis DC, konversi energi pada powertrain, hingga manajemen baterai canggih—semua dikembangkan dengan tujuan efisiensi maksimum dan emisi minimum. Contohnya, Tesla dan Hyundai telah menyematkan sistem regenerative braking berbasis elektronik yang tidak hanya memperpanjang umur baterai, tapi juga mengurangi limbah panas yang biasanya terbuang sia-sia.

    Yang menarik, gabungan antara green robotics dan EV kini mulai saling terhubung. Robot autonomous yang beroperasi di pabrik-pabrik pintar EV, misalnya, tidak hanya membantu merakit komponen dengan presisi tinggi, tetapi juga dirancang untuk beroperasi menggunakan energi yang bersumber dari sistem energi terbarukan. Di sisi lain, kendaraan listrik modern mulai dilengkapi dengan fitur otonom berbasis AI dan sensor elektro, menciptakan kendaraan yang tidak hanya bersih, tapi juga cerdas dan responsif terhadap lingkungan sekitar.

    Studi kasus dari Jepang menunjukkan bagaimana pabrik mobil seperti Toyota memanfaatkan robot hijau dalam proses daur ulang komponen EV lama. Robot-robot ini mampu memilah logam langka seperti lithium dan kobalt secara otomatis, mengurangi limbah elektronik sekaligus menciptakan siklus produksi yang lebih berkelanjutan. Hal ini membuka jalan menuju ekonomi sirkular yang lebih efisien.

    Namun, tantangan tetap ada. Tingginya biaya awal, kebutuhan akan tenaga ahli lintas disiplin, dan ketersediaan infrastruktur energi hijau masih menjadi hambatan dalam adopsi luas green robotics dan EV. Tetapi dengan dukungan riset yang berkelanjutan dan kebijakan publik yang progresif, teknologi berbasis teknik elektro ini semakin menunjukkan potensinya untuk menciptakan masa depan yang lebih bersih.

    Green robotics dan kendaraan listrik bukan hanya produk teknologi. Mereka adalah pernyataan bahwa kemajuan bisa berjalan seiring dengan keberlanjutan. Dan teknik elektro, dengan segala kompleksitas dan ketelitiannya, membuktikan diri sebagai disiplin ilmu yang tak hanya membangun masa depan, tapi juga menjaganya tetap hijau.


    Referensi Ilmiah
    1. Yim, M., et al. (2020). Sustainable design principles in green robotics. Robotics and Autonomous Systems.
    2. Khaligh, A., & Li, Z. (2010). Battery, ultracapacitor, fuel cell, and hybrid energy storage systems for electric, hybrid electric, fuel cell, and plug-in hybrid electric vehicles: State of the art. IEEE Transactions on Vehicular Technology.
    3. Liu, C., et al. (2017). Energy-efficient electric drive technologies for EVs. Renewable and Sustainable Energy Reviews.
    4. Maffei, A., et al. (2021). Recyclable materials and robotics in electric vehicle production. Journal of Cleaner Production.
    5. Kim, J., et al. (2019). Smart factories powered by green robotics in the EV industry. IEEE Transactions on Industrial Informatics.
  • Pelatihan Energi Terbarukan SMKN 2 Lamongan

    Pelatihan Energi Terbarukan SMKN 2 Lamongan

    Surabaya, Kamis 22 Mei 2025. Telkom University Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan vokasi dan penyebaran teknologi ramah lingkungan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat .

    Kali ini menyasar  SMKN 2 Lamongan  dengan  mengangkat tema “Diseminasi Sistem Pembangkit Tenaga Surya untuk Guru dan Siswa” dan diisi dengan pelatihan penggunaan alat pengukur harmonisa serta penyerahan modul kit PV mini sebagai media pembelajaran.

    Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (22/5/2025) ini diikuti oleh guru dan siswa SMKN 2 Lamongan serta melibatkan tim dosen dan mahasiswa dari Telkom University Surabaya. Acara dibuka sejak pukul 08.30 WIB dan berlangsung hingga 12.15 WIB dengan suasana yang interaktif dan antusiasme tinggi dari para peserta.

    Dalam sambutannya, perwakilan Telkom University Surabaya menyampaikan pentingnya penguasaan teknologi energi terbarukan sebagai bagian dari transformasi pendidikan ke arah yang lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap perkembangan industri.

    Isa Hafidz, salah satu dosen Teknik Elektro Telkom University Surabaya yang memimpin kegiatan ini, menyatakan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan jembatan antara dunia kampus dan kebutuhan pendidikan vokasi di lapangan,

    “Kegiatan ini kami rancang untuk memberi pengalaman nyata bagi guru dan siswa dalam memahami pentingnya energi baru terbarukan. Harapannya, pembelajaran di kelas bisa lebih aplikatif dan dekat dengan kebutuhan industri,” ujar Isa Hafidz.

    Salah satu agenda utama adalah penyerahan modul PV mini, yang dirancang sebagai alat bantu praktik pengenalan sistem tenaga surya skala kecil.

    Peserta juga diberikan pelatihan penggunaan alat ukur harmonisa Hioki, yang penting dalam dunia industri untuk mendeteksi gangguan kualitas daya listrik. Pelatihan ini memperkuat keterampilan teknis siswa dan guru dalam memahami standar industri terkait kelistrikan.

    Selain Isa Hafidz, kegiatan ini juga didukung oleh dosen Chaironi Latif dan Rifki Dwi Putranto, serta empat mahasiswa pendamping: Hernadimas Alfattah, Yayoung Zheka Hardynarta, Lusia Febrianty Daeng, dan Muhammad Evan Permana.

    Melalui program pengabdian ini, Telkom University Surabaya berharap dapat terus memperluas kontribusi positifnya dalam pendidikan vokasi dan pengembangan kompetensi siswa di bidang energi terbarukan, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau).

    Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan antara Telkom University Surabaya dan sekolah-sekolah vokasi di Jawa Timur, guna memperkuat kesiapan siswa menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0.

    source : kilasjatim.com

Secret Link