Month: March 2025

  • Buka Bersama Elektro 2025

    Buka Bersama Elektro 2025

     Surabaya, 14 Maret 2025. Kegiatan Bagi-Bagi Takjil dan Buka Bersama di bulan Ramadhan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Elektro merupakan acara tahunan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh civitas akademika. Acara ini tidak hanya menjadi momen untuk berbuka puasa bersama, tetapi juga sebagai wadah mempererat tali silaturahmi antar mahasiswa dan dosen , serta indahnya berbagi dalam bulan yang penuh berkah. Diisi dengan rangkaian kegiatan seperti games dan sesi kesan dan pesan , acara buka bersama ini dirancang untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan sosial di lingkungan Teknik Elektro.

    Selain sebagai ajang mempererat hubungan kekeluargaan, acara ini juga menjadi kesempatan untuk saling berbagi cerita, pengalaman, dan inspirasi, baik dalam konteks akademik maupun kehidupan sehari-hari. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menjadi ciri khas dalam setiap pelaksanaan Buka Bersama, menciptakan hubungan yang lebih akrab dan harmonis antar seluruh peserta. Melalui acara ini, diharapkan nilai-nilai keagamaan, kekeluargaan, serta rasa solidaritas di lingkungan Teknik Elektro semakin kuat, menciptakan atmosfer yang positif dan harmonis baik di dalam maupun di luar kampus. Selain itu, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Ramadhan tidak hanya tentang memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta, tetapi juga mempererat ikatan antar sesama manusia dalam semangat kebersamaan.

     

  • Kendaraan Listrik Modular Inovasi Tel-U Surabaya, Dukung UMKM Kampoeng Oase Songo

    Kendaraan Listrik Modular Inovasi Tel-U Surabaya, Dukung UMKM Kampoeng Oase Songo

    Surabaya, 27 November 2024.  Demi mendukung keberlanjutan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kampoeng Oase Songo Surabaya, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Telkom (Tel-U) Surabaya merancang kendaraan modular ramah lingkungan berbahan bakar listrik. Tim PKM Tel-U Surabaya, yang beranggotakan tiga dosen dan 13 mahasiswa, menciptakan kendaraan modular multifungsi dengan tenaga listrik yang ramah lingkungan.

    Ketua Tim PKM Susijanto Tri Rasmana menjelaskan bahwa program itu didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.

    Becak listrik ini didesain sesuai kebutuhan warga Kampoeng Oase. Dengan bentuk modular, kendaraan ini dapat digunakan untuk mengangkut penumpang, barang, maupun untuk berjualan,” ungkap Susijanto. Ia menambahkan bahwa becak listrik itu menggunakan tenaga listrik. Sehingga ramah lingkungan dan lebih hemat biaya dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.

    Rifki Dwi Putranto, anggota tim pengembang, menambahkan bahwa pembuatan kendaraan itu memakan waktu empat bulan dan memiliki tiga mode operasi: speed, normal, dan hemat daya (Eco). Dengan daya tempuh 30-38 km, kendaraan itu dapat diisi ulang dalam waktu lima jam menggunakan daya listrik rumah tangga biasa.

    Becak listrik itu mampu menampung beban hingga 200 kg, cukup untuk dua penumpang atau berbagai barang dagangan. Rifki Dwi Putranto selaku Pembina berharap kendaraan itu tidak hanya diterima, tetapi juga digunakan secara aktif untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik di kalangan UMKM.

    Dengan adanya kendaraan itu, wisatawan dapat menikmati eduwisata yang ditawarkan kampung, termasuk produk lokal seperti kopi dan jamu khas Oase.

    Ketua Kampoeng Oase Songo Yaning Mustika Ningrum menyambut baik inovasi itu. Terutama untuk mengangkut barang. Dia memastikan bahwa becak listrik akan dimanfaatkan dengan optimal oleh warga kampung. “Kami memastikan bahwa kampoeng oase yang lain, ondomohen dan tembok gede juga turut merasakan becak listrik ini,” ujarnya.
     
    Inovasi kendaraan listrik modular dari Universitas Telkom Surabaya membawa angin segar bagi Kampoeng Oase Songo. Tidak hanya membantu operasional UMKM, kendaraan itu juga menjadi simbol komitmen kampung dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan perekonomian lokal. Ke depan, diharapkan kendaraan itu semakin memperkuat identitas Kampoeng Oase sebagai pelopor kampung ramah lingkungan di Surabaya.
     
    Sumber : harian.disway.id

     

  • Hibah Pengembangan Robot Medis Logistik

    Hibah Pengembangan Robot Medis Logistik

    Surabaya, 06 Maret 2025 UKM Robotika @robotika.tus kembali hadirkan inovasi teknologi di dunia kesehatan dengan mengembangkan robot medis dalam membantu pelayanan nakes di RSUD Dr. Soewandhie. “Robot Medis” ini dirancang untuk meningkatkan kualitas layanan rumah sakit, khususnya bagi pasien dengan risiko tinggi penularan penyakit😷🦠

    Dengan teknologi ini, tenaga medis seperti dokter dan perawat tidak perlu masuk langsung ke ruangan pasien, melainkan dapat mengendalikan robot untuk mengantarkan kebutuhan pasien dengan lebih aman dan efisien❤️👍

    Pengembangan Robot Medis, membutuhkan waktu lima bulan, di mana proyek ini berawal dari inovasi sebelumnya, robot distribusi makanan bagi pasien COVID-19 yang telah dikirimkan ke RSUD Dr. Soewandhie saat pandemi melanda. Kini, robot tersebut mengalami perbaikan dan penyempurnaan oleh mahasiswa agar dapat berfungsi lebih optimal sebagai robot medis yang mendukung distribusi obat serta pelayanan pasien di rumah sakit.

  • Wide Bandgap Semiconductors: Masa Depan Efisiensi Energi dalam Teknik Elektro

    Wide Bandgap Semiconductors: Masa Depan Efisiensi Energi dalam Teknik Elektro

    Dalam dunia teknik elektro, efisiensi energi bukan lagi sekadar tujuan tambahan—ia telah menjadi fondasi dari inovasi. Di tengah kebutuhan global akan sistem kelistrikan yang lebih cepat, lebih kecil, dan lebih hemat energi, hadir satu revolusi senyap namun signifikan: Wide Bandgap Semiconductors (WBG).

    Material semikonduktor konvensional seperti silikon (Si) telah lama menjadi tulang punggung elektronika daya. Namun, dengan tuntutan aplikasi modern seperti kendaraan listrik, sistem grid pintar, dan pembangkit energi terbarukan, batas fisik silikon mulai menghambat. Di sinilah Wide Bandgap Semiconductors seperti Silicon Carbide (SiC) dan Gallium Nitride (GaN) tampil sebagai solusi masa depan.

    Secara teknis, bandgap adalah energi minimum yang diperlukan untuk memindahkan elektron dari pita valensi ke pita konduksi dalam semikonduktor. Semakin lebar bandgap-nya, semakin besar kemampuan material untuk bertahan di tegangan tinggi, suhu ekstrem, dan frekuensi tinggi. SiC memiliki bandgap sekitar 3.3 eV dan GaN sekitar 3.4 eV, jauh lebih besar dibandingkan silikon yang hanya 1.1 eV .

    Kemampuan ini membuka banyak keunggulan teknis:

    • Efisiensi switching lebih tinggi: perangkat dapat beroperasi lebih cepat dan dengan kehilangan daya lebih rendah.
    • Tahan terhadap suhu tinggi: WBG bisa bekerja di atas 200°C, cocok untuk sistem kendaraan listrik atau lingkungan ekstrem.
    • Desain perangkat lebih kecil: berkurangnya kebutuhan pendinginan memungkinkan sistem menjadi lebih ringkas.

    Studi oleh U.S. Department of Energy melalui PowerAmerica mencatat bahwa inverter berbasis SiC meningkatkan efisiensi sistem penggerak kendaraan listrik hingga 98%, dan mengurangi ukuran komponen sebesar 50% . Sementara itu, GaN telah diadopsi luas untuk pengisi daya cepat, radar frekuensi tinggi, dan sistem satelit karena kemampuannya bekerja di MHz hingga GHz.

    Salah satu studi kasus paling menarik adalah integrasi WBG dalam sistem transportasi. Misalnya, Tesla menggunakan MOSFET berbasis SiC dalam inverter Model 3, menggantikan komponen berbasis silikon untuk meningkatkan efisiensi dan jarak tempuh. Sementara perusahaan seperti Transphorm dan Navitas memproduksi GaN untuk adaptor daya berukuran mungil namun berdaya tinggi .

    Dalam ranah industri berat, WBG juga merevolusi smart grid dan pembangkit tenaga. Sistem HVDC (High Voltage Direct Current) kini mulai mengadopsi SiC untuk meningkatkan efisiensi transmisi jarak jauh. Bahkan pada pembangkit tenaga surya dan angin, WBG memungkinkan konversi daya yang lebih cepat dan responsif terhadap variabilitas sumber energi terbarukan .

    Namun, teknologi ini tidak tanpa tantangan. Biaya produksi wafer WBG masih tinggi dibanding silikon. Kompleksitas dalam manufaktur dan keterbatasan rantai pasok global juga menjadi penghambat adopsi massal. Namun, laporan dari Yole Développement (2023) menunjukkan bahwa biaya produksi SiC dan GaN menurun drastis dalam lima tahun terakhir seiring meningkatnya volume produksi .

    Melihat tren ini, akademisi dan praktisi teknik elektro tidak bisa mengabaikan WBG sebagai materi masa depan. Kurikulum teknik elektro pun kini mulai memasukkan topik desain perangkat berbasis SiC dan GaN. Sebab, inilah masa depan—bukan hanya dalam kata, tapi dalam kebutuhan konkret sistem energi global yang lebih cepat, lebih bersih, dan lebih cerdas.


    Referensi Ilmiah
    1. IEEE Spectrum. (2020). Why Wide Bandgap Semiconductors Are Critical to the Future of Power Electronics.
    2. U.S. Department of Energy, PowerAmerica. (2021). Wide Bandgap Power Electronics: Technology Roadmap and Market Forecast.
    3. Nature Electronics. (2022). Gallium Nitride for Power Electronics: Opportunities and Challenges.
    4. Renewable Energy Journal. (2023). SiC Inverters for Renewable Integration: A Comparative Study.
    5. Yole Développement. (2023). SiC and GaN Market & Technology Report.
  • Bangunan Pintar dan IoT: Transformasi Dunia Konstruksi dengan Sistem Otomatisasi

    Bangunan Pintar dan IoT: Transformasi Dunia Konstruksi dengan Sistem Otomatisasi

    Dulu, bangunan hanyalah struktur fisik—campuran beton, baja, dan batu bata. Namun kini, bangunan telah berevolusi menjadi entitas hidup yang mampu merespons lingkungan, berkomunikasi dengan penghuninya, dan mengatur dirinya sendiri. Semua itu dimungkinkan berkat kehadiran teknologi Internet of Things (IoT), yang mendorong transformasi besar dalam dunia konstruksi dan pengelolaan gedung melalui konsep bangunan pintar (smart building).

    Bangunan pintar bukan hanya tren masa depan, tetapi kenyataan yang sedang tumbuh di seluruh dunia. Di dalamnya, ribuan sensor tersembunyi bekerja bersama untuk memantau suhu, kelembapan, kualitas udara, keamanan, hingga penggunaan energi. Data dari sensor tersebut kemudian dianalisis secara real-time dan digunakan oleh sistem otomasi untuk mengatur HVAC, pencahayaan, akses keamanan, hingga lift—semuanya tanpa campur tangan manusia.

    Teknologi ini memberikan efisiensi energi yang luar biasa. Studi oleh U.S. Department of Energy (2022) menunjukkan bahwa bangunan dengan sistem manajemen energi berbasis IoT mampu mengurangi konsumsi listrik hingga 30% melalui optimalisasi otomatis. Misalnya, lampu hanya menyala saat ruangan digunakan dan pendingin ruangan menyesuaikan suhu berdasarkan jumlah penghuni.

    Salah satu contoh nyata bisa ditemukan pada The Edge di Amsterdam, yang dijuluki sebagai “kantor paling pintar di dunia.” Gedung ini menggunakan 28.000 sensor IoT yang mengatur segalanya mulai dari pencahayaan hingga tempat parkir. Dengan aplikasi mobile, pegawai bahkan bisa memilih ruangan kerja dengan suhu dan pencahayaan yang mereka sukai—semua tersinkronisasi otomatis dengan sistem.

    Di Indonesia, proyek seperti BSD Digital Hub mulai mengadopsi prinsip bangunan pintar dengan sistem kontrol terpusat untuk manajemen energi, pemantauan CCTV berbasis AI, serta sistem deteksi kebocoran atau kebakaran otomatis yang terhubung dengan perangkat IoT. Ini menandai pergeseran cara perancang dan insinyur memandang bangunan: bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai sistem cerdas yang dapat belajar dan beradaptasi.

    Manfaat lainnya tidak kalah strategis, terutama dalam hal keselamatan dan perawatan. IoT memungkinkan pemeliharaan prediktif—sistem akan memberi tahu kapan lift perlu diperiksa atau jika ada potensi kerusakan pipa sebelum benar-benar terjadi. Hal ini mengurangi biaya perawatan, memperpanjang usia infrastruktur, dan tentu saja meningkatkan keselamatan penghuni.

    Namun, seperti semua transformasi digital, integrasi IoT dalam konstruksi tidak bebas tantangan. Isu interoperabilitas antarperangkat, keamanan siber, serta kebutuhan terhadap infrastruktur jaringan yang stabil menjadi perhatian utama. Selain itu, ada juga kebutuhan untuk retraining tenaga kerja agar mampu beradaptasi dengan sistem baru ini.

    Tetapi arah masa depan sudah jelas: bangunan bukan lagi struktur statis, melainkan jaringan pintar yang menyatu dengan gaya hidup modern, urbanisasi cerdas, dan keberlanjutan lingkungan. Dunia konstruksi kini tidak lagi hanya membangun dinding, tetapi juga membangun sistem yang hidup, berpikir, dan beradaptasi.


    Referensi Ilmiah
    1. Ahmad, T., & Aibinu, A. (2019). Building Energy Management Using IoT and AI: A Review. Energy and Buildings, Elsevier.
    2. U.S. Department of Energy. (2022). Smart Buildings and Energy Optimization through IoT.
    3. GhaffarianHoseini, A., et al. (2016). Sustainable Smart Building Systems: A Review of Trends and Challenges. Renewable and Sustainable Energy Reviews.
    4. Deloitte. (2021). The Edge Amsterdam: Smart Building Case Study.
    5. Kompas Tekno. (2023). Digital Hub BSD dan Implementasi Smart City di Indonesia.
Secret Link