Category: Artikel dan Berita

  • WPT untuk Mobil Listrik: Menuju Pengisian Otomatis Tanpa Kabel

    WPT untuk Mobil Listrik: Menuju Pengisian Otomatis Tanpa Kabel

    Mobil listrik (electric vehicle/EV) kini menjadi tulang punggung transisi global menuju transportasi rendah emisi. Namun, salah satu tantangan utama yang masih dihadapi adalah sistem pengisian daya. Kabel pengisi konvensional sering kali dianggap tidak praktis, terutama dalam konteks adopsi massal. Untuk menjawab persoalan tersebut, teknologi Wireless Power Transfer (WPT) hadir sebagai solusi yang menjanjikan, memungkinkan kendaraan mengisi daya secara otomatis tanpa perlu colokan kabel.

    WPT bekerja dengan prinsip inductive coupling atau resonant magnetic coupling, di mana energi listrik ditransfer dari transmitter di permukaan jalan ke receiver coil di bawah kendaraan. Dengan metode ini, pengisian dapat berlangsung hanya dengan memarkirkan mobil di atas pad khusus. Penelitian oleh Budhia et al. (2013) menunjukkan bahwa sistem WPT untuk EV dapat mencapai efisiensi hingga 90%, mendekati performa pengisian kabel.

    Keunggulan utama WPT terletak pada kenyamanan dan otomatisasi. Pengemudi tidak lagi perlu mencolokkan kabel, sehingga pengisian dapat dilakukan di rumah, tempat parkir umum, atau bahkan secara dinamis ketika kendaraan bergerak di jalan yang dilengkapi infrastruktur WPT. Zhang et al. (2019) mencatat bahwa teknologi dynamic wireless charging berpotensi mengatasi keterbatasan jarak tempuh (range anxiety), karena mobil dapat terus terisi selama perjalanan.

    Selain kenyamanan, WPT juga memiliki implikasi strategis bagi mobilitas pintar (smart mobility). Integrasi dengan sistem IoT memungkinkan pengisian yang terjadwal dan adaptif, misalnya hanya dilakukan saat harga listrik rendah atau ketika jaringan memiliki kapasitas lebih. Bahkan, dalam skenario masa depan, kendaraan listrik dengan WPT dapat berfungsi sebagai penyimpan energi terdistribusi (vehicle-to-grid/V2G), yang membantu menyeimbangkan pasokan energi terbarukan. Menurut studi Covic & Boys (2013), WPT untuk EV dapat menjadi komponen penting dalam ekosistem energi cerdas.

    Meski demikian, teknologi WPT masih menghadapi sejumlah tantangan. Biaya instalasi infrastruktur, standar interoperabilitas antar produsen, serta isu keselamatan elektromagnetik masih perlu diatasi sebelum adopsi massal. Selain itu, efisiensi pengisian bisa menurun jika posisi kendaraan tidak presisi dengan pad transmitter. Namun, dengan kemajuan desain coil adaptif, kontrol posisi otomatis, dan dukungan regulasi, hambatan tersebut semakin berkurang (Li & Mi, 2015).

    Dengan perkembangan riset dan uji coba global, WPT semakin mendekatkan visi pengisian mobil listrik yang sepenuhnya otomatis, efisien, dan nyaman. Jika pengisian kabel adalah masa kini, maka pengisian nirkabel adalah masa depan. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan pengalaman pengguna, tetapi juga mempercepat adopsi kendaraan listrik sebagai solusi mobilitas berkelanjutan dunia.


    Referensi
    1. Budhia, M., Covic, G. A., Boys, J. T., & Huang, C. Y. (2013). Development of Inductive Power Transfer Systems for Electric Vehicles. IEEE Transactions on Industrial Electronics, 60(7), 2838–2845. https://doi.org/10.1109/TIE.2012.2191750
    2. Zhang, W., White, J. C., & Mi, C. C. (2019). Dynamic Wireless Power Transfer for Electric Vehicles. IEEE Transactions on Industrial Electronics, 66(7), 5304–5315. https://doi.org/10.1109/TIE.2018.2869340
    3. Covic, G. A., & Boys, J. T. (2013). Inductive Power Transfer. Proceedings of the IEEE, 101(6), 1276–1289. https://doi.org/10.1109/JPROC.2013.2244536
    4. Li, S., & Mi, C. C. (2015). Wireless Power Transfer for Electric Vehicle Applications. IEEE Journal of Emerging and Selected Topics in Power Electronics, 3(1), 4–17. https://doi.org/10.1109/JESTPE.2014.2319453
    5. Khaligh, A., & Dusmez, S. (2012). Comprehensive Topological Analysis of Conductive and Inductive Charging Solutions for Plug-In Electric Vehicles. IEEE Transactions on Vehicular Technology, 61(8), 3475–3489. https://doi.org/10.1109/TVT.2012.2198675
  • Wide-Bandgap Semiconductors (SiC & GaN): Motor Baru Revolusi Energi Hijau

    Wide-Bandgap Semiconductors (SiC & GaN): Motor Baru Revolusi Energi Hijau

    Perkembangan teknologi energi hijau semakin menuntut perangkat elektronik yang mampu bekerja lebih efisien, tahan pada suhu ekstrem, serta mendukung konversi daya dengan kehilangan energi minimal. Dalam konteks ini, semikonduktor wide-bandgap (WBG) seperti Silicon Carbide (SiC) dan Gallium Nitride (GaN) hadir sebagai solusi revolusioner. Berbeda dengan silikon konvensional, SiC dan GaN memiliki bandgap lebih besar (sekitar 3,3 eV untuk SiC dan 3,4 eV untuk GaN), yang memungkinkan pengoperasian pada tegangan dan frekuensi lebih tinggi serta resistansi lebih rendah. Karakteristik ini menjadikan keduanya sebagai fondasi baru dalam mendukung transisi menuju energi bersih yang lebih efisien dan berkelanjutan (Millán et al., 2014; Xing et al., 2021).

    Keunggulan SiC terletak pada kemampuannya mengurangi kerugian konduksi dan meningkatkan ketahanan terhadap suhu tinggi, sehingga banyak digunakan pada inverter kendaraan listrik. Sebagai contoh, Tesla Model 3 menggunakan MOSFET berbasis SiC untuk meningkatkan efisiensi inverter hingga lebih dari 97%, sekaligus memperpanjang jarak tempuh baterai. Sementara itu, GaN menawarkan mobilitas elektron tinggi yang membuatnya unggul dalam aplikasi konverter berfrekuensi tinggi, seperti pengisian cepat (fast charging) dan sistem manajemen daya pada perangkat elektronik modern (Chow, 2020; She et al., 2017).

    Penerapan WBG tidak terbatas pada kendaraan listrik. Dalam sistem energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya dan angin, penggunaan perangkat berbasis SiC dan GaN mampu meningkatkan efisiensi konversi energi hingga 99%. Hal ini berarti lebih sedikit energi yang hilang dalam proses konversi, sekaligus mengurangi kebutuhan sistem pendinginan dan menekan biaya operasional jangka panjang. Dengan kata lain, teknologi ini mendukung tidak hanya transisi ke energi hijau, tetapi juga menciptakan infrastruktur energi yang lebih ringan, ringkas, dan tahan lama (Ruffino et al., 2022).

    Namun, di balik potensinya yang besar, tantangan teknis dan ekonomi masih harus diatasi. Biaya produksi wafer SiC dan GaN masih lebih tinggi dibanding silikon, yakni sekitar 2–5 kali lipat. Selain itu, kompleksitas dalam proses manufaktur, manajemen termal, dan integrasi sistem menuntut riset lanjutan serta dukungan industri untuk mempercepat adopsi massal. Kendati demikian, jika mempertimbangkan efisiensi energi, penghematan biaya pendinginan, serta peningkatan umur pakai sistem, investasi pada teknologi WBG tetap menjanjikan keuntungan jangka panjang (Zeng et al., 2021).

    Masa depan energi hijau sangat bergantung pada material semikonduktor generasi baru ini. Studi terbaru menunjukkan bahwa selain SiC dan GaN, material lain seperti diamond-based electronics juga sedang diteliti untuk aplikasi ekstrem yang membutuhkan efisiensi lebih tinggi. Namun, dalam jangka menengah, SiC dan GaN diprediksi tetap menjadi pilar utama revolusi energi hijau global. Dengan keunggulan performa dan dukungan riset yang semakin berkembang, WBG dapat dianggap sebagai “motor baru” yang tidak hanya menggerakkan kendaraan listrik, tetapi juga keseluruhan sistem energi masa depan menuju era yang lebih bersih dan berkelanjutan (Bakowski et al., 2020; Ruffino et al., 2022).


    Referensi
    1. Millán, J., Godignon, P., Perpiñà, X., Pérez-Tomás, A., & Rebollo, J. (2014). A Survey of Wide Bandgap Power Semiconductor Devices. IEEE Transactions on Power Electronics, 29(5), 2155–2163. https://doi.org/10.1109/TPEL.2013.2268900
    2. She, X., Huang, A. Q., & Lucía, Ó. (2017). Review of Wide Bandgap Semiconductor Technology and Its Applications. CPSS Transactions on Power Electronics and Applications, 2(3), 168–183. https://doi.org/10.24295/CPSSTPEA.2017.00018
    3. Chow, T. P. (2020). Wide Bandgap Semiconductor Power Devices for Energy Efficient Systems. Energies, 13(23), 6262. https://doi.org/10.3390/en13236262
    4. Xing, J., Li, Z., Tang, Y., et al. (2021). Progress of SiC and GaN Power Devices for High-Efficiency Power Electronics. Journal of Semiconductors, 42(1), 011001. https://doi.org/10.1088/1674-4926/42/1/011001
    5. Ruffino, F., Grimaldi, M. G., & Bongiorno, C. (2022). Wide Bandgap Semiconductors for Power Electronics: Materials, Devices, and Applications. Materials Science in Semiconductor Processing, 140, 106377. https://doi.org/10.1016/j.mssp.2022.106377
    6. Zeng, J., Zhang, Y., & Cheng, L. (2021). Reliability Challenges of Wide-Bandgap Power Semiconductors: Status and Perspectives. IEEE Journal of Emerging and Selected Topics in Power Electronics, 9(2), 1683–1698. https://doi.org/10.1109/JESTPE.2020.3017274
    7. Bakowski, M., Domeij, B., & Bergman, P. (2020). SiC and GaN Devices—Technology, Applications and Future Trends. Semiconductors and Semimetals, 104, 1–38. https://doi.org/10.1016/bs.semsem.2020.04.001
  • Wireless Power Transfer denganTeknologi Pengisian Nirkabel untuk Mobil hingga Alat Medis

    Wireless Power Transfer denganTeknologi Pengisian Nirkabel untuk Mobil hingga Alat Medis

    Bayangkan mengisi daya mobil listrik hanya dengan memarkirnya di atas permukaan tertentu, atau menjaga baterai alat medis tetap aktif tanpa satu pun kabel yang masuk ke dalam tubuh pasien. Inilah visi dari Wireless Power Transfer (WPT), sebuah teknologi yang kini berkembang pesat dan menjadi tumpuan masa depan pengisian daya—bukan hanya untuk kenyamanan, tetapi juga untuk keselamatan dan efisiensi energi.

    Wireless Power Transfer bekerja dengan prinsip dasar induksi elektromagnetik atau resonansi magnetik. Alih-alih mengalirkan arus melalui kabel, WPT mentransfer energi dari pemancar ke penerima melalui medan elektromagnetik. Energi ini kemudian diubah kembali menjadi listrik di perangkat penerima. Teknologi ini terus berkembang hingga mampu mentransfer daya dalam skala besar dan jarak yang makin jauh, sambil mempertahankan efisiensi yang tinggi.

    Salah satu bidang yang sangat terbantu oleh teknologi ini adalah kendaraan listrik (EV). Perusahaan seperti WiTricity dan Electreon telah mengembangkan sistem WPT untuk mobil listrik yang memungkinkan kendaraan mengisi daya saat diparkir—bahkan saat melaju di jalan tertentu. Studi pilot di Israel dan Swedia telah menunjukkan bahwa mobil listrik bisa mengisi ulang energi dari jalan yang dilengkapi kumparan induktif, tanpa perlu berhenti. Ini bukan hanya membuat pengisian daya lebih praktis, tetapi juga memperkecil kebutuhan kapasitas baterai besar.

    Teknologi WPT juga sangat menjanjikan di dunia medis, terutama untuk alat implan seperti pacu jantung, sensor neurostimulator, dan pompa insulin. Saat ini, sebagian besar perangkat implan harus diganti atau diisi daya melalui prosedur invasif yang berisiko. Dengan WPT, pengisian daya dapat dilakukan secara non-invasif—bahkan ketika pasien sedang beristirahat. Proyek riset dari Stanford University telah membuktikan bahwa implan nirkabel kecil dapat menerima daya secara konstan dari luar tubuh dengan efisiensi tinggi tanpa menyebabkan panas berlebih atau kerusakan jaringan.

    Manfaat utama dari WPT adalah kenyamanan dan kebersihan—tidak ada kabel, tidak ada port yang aus, dan lebih sedikit risiko kerusakan konektor. Dalam konteks industri dan manufaktur, WPT memungkinkan robot bergerak atau peralatan otomatis terisi ulang tanpa harus kembali ke stasiun docking secara fisik. Ini sangat penting untuk lini produksi yang terus berjalan, seperti dalam industri otomotif atau logistik.

    Namun, teknologi ini bukan tanpa tantangan. Efisiensi transfer daya masih menjadi perhatian utama, terutama pada jarak yang lebih jauh. Selain itu, masalah interferensi elektromagnetik dan standar interoperabilitas antar produsen juga menjadi hambatan yang harus diatasi. Untuk itu, konsorsium internasional seperti AirFuel Alliance dan SAE International kini aktif mengembangkan standar global untuk memastikan keamanan dan kompatibilitas sistem WPT di berbagai sektor.

    Penelitian dari IEEE menunjukkan bahwa dengan peningkatan desain koil dan algoritma penyesuaian resonansi berbasis AI, efisiensi WPT bisa mencapai lebih dari 90% dalam jarak pendek. Sementara itu, laporan dari IDTechEx memprediksi bahwa pasar WPT akan tumbuh hingga USD 20 miliar pada tahun 2030, didorong oleh permintaan di sektor kendaraan listrik dan kesehatan digital.

    Wireless Power Transfer tidak lagi sekadar fitur futuristik. Ia mulai menjadi fondasi bagi berbagai aplikasi praktis yang akan membentuk lanskap industri, transportasi, hingga perawatan kesehatan. Dalam beberapa tahun ke depan, mengisi daya tanpa kabel akan menjadi standar, bukan lagi kemewahan. Dan ketika daya bisa mengalir di udara seefisien kabel—kita tengah menyaksikan transisi menuju dunia tanpa colokan.


    Referensi Ilmiah:
    1. Kurs, A., et al. (2007). Wireless Power Transfer via Strongly Coupled Magnetic Resonances. Science.
    2. Lu, F., Zhang, H., & Mi, C. (2015). A Review on High-Frequency Inductive Power Transfer for Electric Vehicles. IEEE Transactions on Power Electronics.
    3. Kim, S., et al. (2020). Wireless Power Transfer for Implantable Devices: Safety and Efficiency. IEEE Transactions on Biomedical Circuits and Systems.
    4. WiTricity (2023). Next-Gen Wireless Charging Systems for EVs.
    5. Electreon (2024). Dynamic Wireless Charging Projects for Urban Mobility.
    6. IDTechEx (2024). Wireless Charging 2024–2034: Technologies, Players, Forecasts.
  • Mahasiswa Teknik Elektro Raih Medali Emas di PORPROV IX Jatim 2025

    Mahasiswa Teknik Elektro Raih Medali Emas di PORPROV IX Jatim 2025

    Surabaya, Juli 2025 – Kabar membanggakan datang dari salah satu mahasiswa Teknik Elektro Telkom University Surabaya. Rosa Aprilia Handini, mahasiswa angkatan 2023, sukses meraih Juara 1 pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) IX Jawa Timur 2025 dalam cabang olahraga Pickleball Ganda Putri.

    Prestasi ini menambah deretan pencapaian membanggakan dari mahasiswa Teknik Elektro yang tak hanya unggul dalam bidang akademik dan teknologi, tetapi juga berprestasi dalam bidang olahraga tingkat provinsi.

    Rosa tampil memukau dalam pertandingan yang berlangsung sengit, menunjukkan semangat juang dan kerja sama tim yang luar biasa. Ia berhasil mengungguli para lawan tangguh dari berbagai daerah di Jawa Timur dan membawa pulang medali emas, serta maskot resmi PORPROV sebagai simbol kemenangan.

    “Saya sangat bersyukur dan bangga bisa mengharumkan nama Telkom University Surabaya di ajang sebesar ini. Semoga prestasi ini bisa menginspirasi teman-teman Electrizen lainnya untuk terus berprestasi di bidang masing-masing,” ungkap Rosa dengan penuh semangat.

    Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Teknik Elektro memiliki potensi luar biasa dalam berbagai bidang, termasuk olahraga. Semangat ini menjadi simbol motivasi dan inspirasi bagi seluruh civitas akademika untuk terus berkontribusi dan berkarya secara positif.

  • Predictive Maintenance di Industri Energi dengan Studi Kasus Duke Energy dan Masa Depan Utilitas

    Predictive Maintenance di Industri Energi dengan Studi Kasus Duke Energy dan Masa Depan Utilitas

    Di era transformasi digital, industri energi menghadapi tekanan untuk menjadi lebih efisien, andal, dan berkelanjutan. Salah satu pendekatan revolusioner yang tengah diadopsi luas adalah predictive maintenance—strategi pemeliharaan yang mengandalkan data dan teknologi analitik untuk memprediksi kegagalan sistem sebelum terjadi. Dibandingkan dengan metode konvensional seperti corrective atau preventive maintenance, pendekatan ini mampu mengurangi downtime tak terduga dan memaksimalkan umur aset. Dalam konteks ini, Duke Energy, salah satu perusahaan utilitas terbesar di Amerika Serikat, menjadi contoh nyata keberhasilan implementasi predictive maintenance di industri energi.

    Transformasi Pemeliharaan dengan Data dan AI

    Predictive maintenance bergantung pada teknologi seperti Internet of Things (IoT), machine learning, dan big data analytics. Sensor dipasang pada peralatan penting untuk mengumpulkan data real-time seperti suhu, getaran, tekanan, dan arus listrik. Data ini kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi pola yang menandakan potensi kegagalan. Sebuah studi oleh Susto et al. (2015) menyoroti bagaimana algoritma pembelajaran mesin seperti Random Forest dan Support Vector Machines (SVM) digunakan untuk mendeteksi anomali dalam sistem industri secara proaktif.

    Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan di IEEE Transactions on Industrial Informatics, integrasi sistem SCADA dengan predictive analytics telah meningkatkan efisiensi operasional pembangkit listrik hingga 30%. Ini sejalan dengan hasil riset oleh Mobley (2020), yang menunjukkan bahwa predictive maintenance dapat mengurangi biaya pemeliharaan hingga 40% dibandingkan metode tradisional.

    Studi Kasus: Duke Energy

    Duke Energy memulai transformasi digitalnya dengan membangun enterprise asset management system yang mengintegrasikan sensor IoT dan cloud computing. Salah satu inisiatif utamanya adalah proyek SmartGen yang dipasang di pembangkit listrik tenaga batubara dan gas. Dalam proyek ini, lebih dari 40.000 titik data dipantau secara real-time, termasuk tekanan boiler, temperatur turbin, dan performa sistem pendingin.

    Hasilnya sangat signifikan: Duke Energy berhasil menghindari potensi kerusakan turbin yang bisa menyebabkan kerugian jutaan dolar, hanya karena satu anomali kecil pada getaran berhasil dideteksi dini. Selain itu, penggunaan predictive maintenance memungkinkan mereka memperpanjang interval servis dari 6 bulan menjadi 12 bulan pada beberapa komponen kunci.

    Dalam wawancara yang dilakukan oleh Utility Dive, Tim Fains, Digital Plant Manager di Duke Energy, menyebut bahwa penggunaan AI dan prediktif telah mengubah cara mereka dalam mengelola risiko dan merencanakan investasi infrastruktur energi.

    Manfaat dan Tantangan Implementasi

    Manfaat utama predictive maintenance meliputi:

    • Pengurangan biaya operasional: Dengan menghindari kegagalan mendadak, biaya reparasi dan downtime bisa ditekan secara drastis.
    • Peningkatan keselamatan kerja: Deteksi dini pada sistem berisiko tinggi seperti reaktor nuklir atau turbin gas mengurangi kemungkinan kecelakaan.
    • Perpanjangan umur aset: Komponen yang dirawat sesuai kebutuhan cenderung memiliki umur pakai yang lebih lama.

    Namun, tantangannya juga tidak sedikit. Diperlukan investasi awal yang besar untuk memasang sensor dan membangun infrastruktur data. Selain itu, pemrosesan data skala besar memerlukan kompetensi tinggi di bidang AI dan data science. Masalah interoperabilitas dan keamanan siber juga menjadi perhatian utama dalam industri energi yang sangat kritis ini.

    Masa Depan Predictive Maintenance di Industri Energi

    Ke depan, predictive maintenance tidak akan hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi core strategy dalam manajemen aset utilitas. Dengan berkembangnya edge computing dan AI generatif, proses analisis dapat dilakukan secara lebih cepat dan efisien langsung di sumber data. Perusahaan seperti Siemens, GE Digital, dan IBM Maximo juga semakin aktif mengembangkan solusi berbasis cloud untuk memudahkan adopsi predictive maintenance secara luas.

    Duke Energy bukan satu-satunya pelaku. Di Eropa, EDF Energy dan Enel Group juga telah meluncurkan proyek serupa dengan hasil yang menggembirakan. Bahkan, dalam laporan McKinsey (2023), predictive maintenance diperkirakan akan menghasilkan penghematan global sebesar USD 50 miliar per tahun dalam sektor utilitas energi hingga 2030.


    Referensi Ilmiah
    1. Susto, G. A., Schirru, A., Pampuri, S., McLoone, S., & Beghi, A. (2015). Machine learning for predictive maintenance: A multiple classifier approach. IEEE Transactions on Industrial Informatics.
    2. Zhang, Y., Wang, J., & Li, K. (2022). SCADA-integrated Predictive Maintenance Framework for Power Plants. IEEE Transactions on Industrial Electronics.
    3. Mobley, R. K. (2020). An Introduction to Predictive Maintenance. Butterworth-Heinemann.
    4. Duke Energy Official Reports – SmartGen Project Overview.
    5. Utility Dive (2023). Duke Energy’s Digital Twin and Predictive Maintenance Strategies.
    6. Chen, J., et al. (2021). Challenges in Predictive Maintenance for Industrial Applications. Journal of Manufacturing Systems.
    7. McKinsey & Company (2023). The Economic Impact of Predictive Maintenance in the Energy Sector.
  • Kuliah Tamu : Sukses Berkarir di Dunia Industri

    Kuliah Tamu : Sukses Berkarir di Dunia Industri

    Surabaya, 28 Mei 2025. Program Studi Teknik Elektro, kembali menghadirkan kuliah tamu inspiratif dengan tema “Suskes Berkaris di Dunia Industri”. Acara ini menghadirkan Riza Prasetya Wicaksana, S.T., Managing Director PT. Kosmetika Global Printing & Packaging, yang membagikan pengalaman serta strategi penting untuk membangun karir yang gemilang di dunia industri manufaktur.

    Salah satu poin penting yang disampaikan dalam sesi kuliah ini adalah pentingnya mengelola pendapatan pribadi sejak dini. Mahasiswa diajak untuk memahami bahwa gaji bukanlah uang jajan, melainkan bentuk tanggung jawab sekaligus sarana mencapai tujuan keuangan.

    Tips dari sesi ini:

    • Terapkan aturan 50-30-20:
      50% untuk kebutuhan pokok, 30% gaya hidup, 20% untuk masa depan dan dana darurat.

    • Bangun kebiasaan investasi, bukan sekadar mengikuti gaya hidup.

    • Gunakan gaji untuk naik level, seperti ikut kursus dan sertifikasi.

    Selain berbicara tentang kesiapan menghadapi dunia kerja, pembicara juga mengajak mahasiswa untuk mengenali karakteristik berbagai sektor industri yang bisa menjadi pilihan karier. Perbandingan ini meliputi:

    AspekManufakturJasa (Konsultan/Finance)PemerintahanStartup
    Gaji PokokStabil, KompetitifVariatif, Bisa tinggiTetap, Mengikuti aturan negaraBisa rendah di awal
    Bonus/InsenstifAda, berbasis targetTinggi untuk high-performersSangat terbatasTergantung performa tim/perusahaan
    TunjanganLengkapStandar  
    Stabilitas KerjaTinggiTergantung industri & performaSangat StabilFlluktuatif
    Jam KerjaTeratur, shiftFleksibel, sesuai klien 8-4, relatif tetapTidak tentu, ekstrem
    Jenjang KarirJelas & bertahapKompetitif, akuntabilitasAdministrasi dan birokratisCepat, tapi tidak pasti
    Pembelajaran & SkillTeknis, sistematik,disiplinKomunikasi, analisis, presentasiAdministrasi, regulasiMultitasking, inovasi, adapatif

    Perbandingan ini penting agar mahasiswa tidak hanya melihat angka gaji, tetapi juga mempertimbangkan stabilitas, jenjang karier, hingga budaya kerja yang cocok dengan kepribadian mereka.

    Pak Riza membagikan kisah perjalanan kariernya di dunia industri, mulai dari awal karier hingga kini memimpin sebuah perusahaan besar. Beliau menekankan pentingnya:

    • Kedisiplinan dan konsistensi kerja

    • Membangun personal branding dan soft skill

    • Kepedulian terhadap efisiensi, produktivitas, dan inovasi

    Mahasiswa diajak untuk tidak hanya fokus pada IPK, tapi juga aktif membangun jaringan, mengikuti pelatihan, dan terlibat dalam kegiatan organisasi yang mampu membentuk karakter serta mentalitas kerja yang tangguh.

    Kuliah tamu ini menjadi pengingat dan motivasi bagi seluruh mahasiswa Teknik Elektro bahwa sukses di dunia kerja tak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tapi juga oleh kesiapan mental, manajemen keuangan, dan pemilihan jalur karier yang tepat.

    Ingatlah: Gaji yang baik bukan tujuan akhir, tapi sarana untuk tumbuh dan berkembang. Jadi, kelola pendapatanmu dengan bijak, dan pilih karier dengan cermat!

     

     

  • Peran Teknik Elektro dalam Menciptakan Robotik untuk Penyelamatan dan Kemanusiaan

    Peran Teknik Elektro dalam Menciptakan Robotik untuk Penyelamatan dan Kemanusiaan

    Di balik layar bencana dan kekacauan, ketika waktu menjadi musuh dan keselamatan manusia berada di ujung tanduk, hadir teknologi yang tak hanya canggih tapi juga berjiwa: robot penyelamat. Mereka menelusuri reruntuhan, menyisir medan berbahaya, dan menjangkau lokasi yang mustahil diakses manusia. Dan di jantung dari semua kecanggihan ini, berdiri teknik elektro sebagai pendorong utama misi kemanusiaan yang modern.

    Teknik elektro tidak hanya menghadirkan rangkaian kabel dan komponen—ia merancang sistem penginderaan yang mampu mendeteksi detak jantung di bawah puing-puing, menciptakan aktuator yang memungkinkan gerakan fleksibel di medan yang tidak rata, hingga menyuplai daya efisien agar robot dapat bertahan di area yang tak memiliki infrastruktur energi sama sekali. Dari sensor ultrasonik hingga sistem komunikasi wireless, dari pemrosesan sinyal hingga kendali gerakan berbasis AI, semua adalah hasil dari pemikiran elektro yang dirancang untuk menyelamatkan.

    Contoh nyata kekuatan ini terlihat dalam robot penyelamat bernama “Quince” yang dikembangkan oleh Chiba Institute of Technology di Jepang. Setelah bencana nuklir Fukushima, Quince menjadi salah satu robot pertama yang dikirim untuk memantau radiasi di dalam reaktor yang rusak, menggantikan risiko manusia. Dengan desain berbasis teknik elektro dan sistem navigasi otonom, ia mampu menjelajahi area penuh puing dan mengirimkan data visual serta suhu secara real-time ke tim peneliti di luar zona merah.

    Teknik elektro juga memainkan peran penting dalam pengembangan robot penyelamat yang dilengkapi thermal imaging, detektor suara, hingga sistem pemetaan 3D. Dalam misi pencarian korban gempa di Turki, misalnya, robot-robot kecil beroda dan berkaki—dilengkapi kamera inframerah dan sensor suhu—dikerahkan untuk mendeteksi kehidupan di bawah reruntuhan. Sistem kendali robot ini menggunakan embedded system dan komunikasi nirkabel yang dirancang untuk stabil dalam situasi interferensi tinggi, menunjukkan bagaimana presisi elektro menjadi penyelamat diam-diam.

    Selain bencana alam, robotik penyelamat juga digunakan di zona perang atau daerah konflik kemanusiaan. Di Palestina dan Ukraina, teknologi drone berbasis elektro digunakan untuk mengirim bantuan medis ke daerah yang terisolasi, atau membantu pasukan SAR mengidentifikasi jalur aman. Dengan integrasi sistem power management dan navigasi berbasis GPS serta sensor LIDAR, robot-robot ini tak hanya cepat, tapi juga cerdas dan akurat.

    Namun seperti teknologi lainnya, tantangan tetap ada: mulai dari daya tahan baterai, kompleksitas integrasi sensor, hingga keterbatasan adaptasi di lingkungan yang tak terduga. Di sinilah peran teknik elektro menjadi dinamis—bukan sekadar membangun sistem, tapi juga mengoptimalkannya untuk konteks ekstrem yang tak bisa diprediksi oleh laboratorium. Inovasi seperti pemanfaatan energi surya, pemrosesan sinyal rendah daya, hingga komunikasi mesh yang mandiri menjadi langkah-langkah baru yang terus dikembangkan.

    Pada akhirnya, peran teknik elektro dalam menciptakan robot penyelamat bukan hanya soal teknologi. Ia adalah tentang harapan. Tentang bagaimana sains bisa menjadi perpanjangan tangan kemanusiaan, hadir di tempat yang paling membutuhkan, dan bekerja di saat manusia tak mampu lagi menjangkaunya. Karena di balik setiap kabel, sensor, dan sinyal listrik, ada satu tujuan: menyelamatkan hidup.


    Referensi Ilmiah
    1. Tadokoro, S., et al. (2013). Rescue Robotics: DDT Project on Robots and Systems for Urban Search and Rescue. Springer.
    2. Murphy, R. R. (2014). Disaster Robotics. MIT Press.
    3. Yuta, S., et al. (2012). Development of the QUINCE robot for rescue missions in nuclear disaster. Advanced Robotics Journal.
    4. Ohno, K., et al. (2010). Field experiments of tele-operated tracked vehicles for search and rescue in rubble. Journal of Field Robotics.
    5. Kim, Y., & Park, J. (2019). Smart robotics system for detecting life signs in disaster zones. Sensors and Actuators A: Physical.
  • Green Robotics dan EV: Teknologi Ramah Lingkungan Berbasis Teknik Elektro

    Green Robotics dan EV: Teknologi Ramah Lingkungan Berbasis Teknik Elektro

    Ketika dunia berpacu menuju netralitas karbon, sains dan teknologi berperan sebagai pendorong utama dalam menciptakan solusi berkelanjutan. Di garis terdepan inovasi ini berdiri dua kekuatan besar: green robotics dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV), keduanya dibangun di atas fondasi teknik elektro yang kian canggih dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

    Green robotics bukan hanya soal robot yang hemat energi. Lebih dari itu, ini adalah pendekatan holistik untuk merancang sistem robotik yang memiliki dampak lingkungan minimal—mulai dari pemilihan bahan baku yang dapat didaur ulang, hingga algoritma kontrol yang efisien secara energi. Robot pembersih laut, robot inspeksi tenaga surya, hingga robot pertanian yang bekerja tanpa emisi, semuanya adalah perwujudan konkret dari prinsip ini.

    Teknik elektro hadir sebagai tulang punggung di balik semua itu. Perancangan motor listrik efisiensi tinggi, sistem pengendalian tegangan rendah, hingga optimalisasi konsumsi daya pada mikrokontroler menjadi bagian dari solusi teknis yang memungkinkan green robotics beroperasi lebih cerdas dan hemat daya. Dalam implementasinya, robot-robot ini menggunakan sensor yang mendeteksi kebutuhan energi secara real-time, dan secara adaptif mengatur pola kerjanya untuk menghindari pemborosan.

    Demikian pula pada kendaraan listrik, teknik elektro memainkan peran utama. Dari sistem pengisian cepat berbasis DC, konversi energi pada powertrain, hingga manajemen baterai canggih—semua dikembangkan dengan tujuan efisiensi maksimum dan emisi minimum. Contohnya, Tesla dan Hyundai telah menyematkan sistem regenerative braking berbasis elektronik yang tidak hanya memperpanjang umur baterai, tapi juga mengurangi limbah panas yang biasanya terbuang sia-sia.

    Yang menarik, gabungan antara green robotics dan EV kini mulai saling terhubung. Robot autonomous yang beroperasi di pabrik-pabrik pintar EV, misalnya, tidak hanya membantu merakit komponen dengan presisi tinggi, tetapi juga dirancang untuk beroperasi menggunakan energi yang bersumber dari sistem energi terbarukan. Di sisi lain, kendaraan listrik modern mulai dilengkapi dengan fitur otonom berbasis AI dan sensor elektro, menciptakan kendaraan yang tidak hanya bersih, tapi juga cerdas dan responsif terhadap lingkungan sekitar.

    Studi kasus dari Jepang menunjukkan bagaimana pabrik mobil seperti Toyota memanfaatkan robot hijau dalam proses daur ulang komponen EV lama. Robot-robot ini mampu memilah logam langka seperti lithium dan kobalt secara otomatis, mengurangi limbah elektronik sekaligus menciptakan siklus produksi yang lebih berkelanjutan. Hal ini membuka jalan menuju ekonomi sirkular yang lebih efisien.

    Namun, tantangan tetap ada. Tingginya biaya awal, kebutuhan akan tenaga ahli lintas disiplin, dan ketersediaan infrastruktur energi hijau masih menjadi hambatan dalam adopsi luas green robotics dan EV. Tetapi dengan dukungan riset yang berkelanjutan dan kebijakan publik yang progresif, teknologi berbasis teknik elektro ini semakin menunjukkan potensinya untuk menciptakan masa depan yang lebih bersih.

    Green robotics dan kendaraan listrik bukan hanya produk teknologi. Mereka adalah pernyataan bahwa kemajuan bisa berjalan seiring dengan keberlanjutan. Dan teknik elektro, dengan segala kompleksitas dan ketelitiannya, membuktikan diri sebagai disiplin ilmu yang tak hanya membangun masa depan, tapi juga menjaganya tetap hijau.


    Referensi Ilmiah
    1. Yim, M., et al. (2020). Sustainable design principles in green robotics. Robotics and Autonomous Systems.
    2. Khaligh, A., & Li, Z. (2010). Battery, ultracapacitor, fuel cell, and hybrid energy storage systems for electric, hybrid electric, fuel cell, and plug-in hybrid electric vehicles: State of the art. IEEE Transactions on Vehicular Technology.
    3. Liu, C., et al. (2017). Energy-efficient electric drive technologies for EVs. Renewable and Sustainable Energy Reviews.
    4. Maffei, A., et al. (2021). Recyclable materials and robotics in electric vehicle production. Journal of Cleaner Production.
    5. Kim, J., et al. (2019). Smart factories powered by green robotics in the EV industry. IEEE Transactions on Industrial Informatics.
  • Pelatihan Energi Terbarukan SMKN 2 Lamongan

    Pelatihan Energi Terbarukan SMKN 2 Lamongan

    Surabaya, Kamis 22 Mei 2025. Telkom University Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan vokasi dan penyebaran teknologi ramah lingkungan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat .

    Kali ini menyasar  SMKN 2 Lamongan  dengan  mengangkat tema “Diseminasi Sistem Pembangkit Tenaga Surya untuk Guru dan Siswa” dan diisi dengan pelatihan penggunaan alat pengukur harmonisa serta penyerahan modul kit PV mini sebagai media pembelajaran.

    Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (22/5/2025) ini diikuti oleh guru dan siswa SMKN 2 Lamongan serta melibatkan tim dosen dan mahasiswa dari Telkom University Surabaya. Acara dibuka sejak pukul 08.30 WIB dan berlangsung hingga 12.15 WIB dengan suasana yang interaktif dan antusiasme tinggi dari para peserta.

    Dalam sambutannya, perwakilan Telkom University Surabaya menyampaikan pentingnya penguasaan teknologi energi terbarukan sebagai bagian dari transformasi pendidikan ke arah yang lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap perkembangan industri.

    Isa Hafidz, salah satu dosen Teknik Elektro Telkom University Surabaya yang memimpin kegiatan ini, menyatakan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan jembatan antara dunia kampus dan kebutuhan pendidikan vokasi di lapangan,

    “Kegiatan ini kami rancang untuk memberi pengalaman nyata bagi guru dan siswa dalam memahami pentingnya energi baru terbarukan. Harapannya, pembelajaran di kelas bisa lebih aplikatif dan dekat dengan kebutuhan industri,” ujar Isa Hafidz.

    Salah satu agenda utama adalah penyerahan modul PV mini, yang dirancang sebagai alat bantu praktik pengenalan sistem tenaga surya skala kecil.

    Peserta juga diberikan pelatihan penggunaan alat ukur harmonisa Hioki, yang penting dalam dunia industri untuk mendeteksi gangguan kualitas daya listrik. Pelatihan ini memperkuat keterampilan teknis siswa dan guru dalam memahami standar industri terkait kelistrikan.

    Selain Isa Hafidz, kegiatan ini juga didukung oleh dosen Chaironi Latif dan Rifki Dwi Putranto, serta empat mahasiswa pendamping: Hernadimas Alfattah, Yayoung Zheka Hardynarta, Lusia Febrianty Daeng, dan Muhammad Evan Permana.

    Melalui program pengabdian ini, Telkom University Surabaya berharap dapat terus memperluas kontribusi positifnya dalam pendidikan vokasi dan pengembangan kompetensi siswa di bidang energi terbarukan, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau).

    Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan antara Telkom University Surabaya dan sekolah-sekolah vokasi di Jawa Timur, guna memperkuat kesiapan siswa menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0.

    source : kilasjatim.com

  • AI dan Robotika dalam Industri Otomotif: Dari Pabrik ke Produk

    AI dan Robotika dalam Industri Otomotif: Dari Pabrik ke Produk

    Di balik kemewahan desain sebuah mobil dan kecanggihan fitur-fiturnya, ada jaringan teknologi cerdas yang bekerja tanpa henti—tak hanya di kendaraan itu sendiri, tetapi juga di lini produksinya. Industri otomotif kini tak bisa dipisahkan dari kehadiran Artificial Intelligence (AI) dan robotika. Dari proses manufaktur presisi tinggi hingga pengembangan kendaraan otonom yang bisa mengemudi sendiri, AI dan robot bukan lagi tambahan, tapi komponen utama.

    Di pabrik-pabrik modern seperti milik BMW, Ford, atau Toyota, jalur produksi telah dipenuhi oleh robot kolaboratif (cobots) yang bekerja berdampingan dengan manusia. Mereka merakit komponen, melakukan inspeksi kualitas dengan kamera berbasis AI, hingga mengatur logistik secara otomatis. Dengan kecerdasan buatan, sistem ini tidak hanya menjalankan perintah, tapi juga belajar dari proses sebelumnya—mengoptimalkan waktu kerja, meminimalkan kesalahan, dan merespons anomali secara mandiri. Dalam satu jalur perakitan, efisiensi bisa meningkat hingga 25% hanya karena sistem mampu memperkirakan hambatan sebelum terjadi.

    Kecerdasan buatan juga memainkan peran besar dalam pengembangan produk. Proses desain kendaraan kini dibantu oleh AI yang menganalisis data pengguna, tren pasar, hingga umpan balik pengemudi untuk menghasilkan model yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen. Di sisi lain, simulasi berbasis machine learning membantu produsen menguji keamanan, efisiensi bahan bakar, dan dinamika berkendara—semuanya dilakukan di ruang virtual sebelum kendaraan benar-benar dirakit.

    Puncaknya adalah penerapan AI dan robotika pada produk itu sendiri: kendaraan. Mobil bukan lagi sekadar mesin transportasi, tapi sistem otonom yang mampu mengenali lingkungan, memproses keputusan secara real-time, dan bahkan berkomunikasi dengan kendaraan atau infrastruktur lain. Tesla menjadi contoh paling populer, tetapi pabrikan seperti Mercedes-Benz, Audi, dan Nissan juga telah mengintegrasikan sistem semi-otonom berbasis AI pada lini kendaraan mereka.

    Studi kasus yang menarik datang dari pabrik General Motors yang memanfaatkan AI untuk predictive maintenance. Dengan sensor dan algoritma prediktif, GM mampu mengurangi downtime mesin hingga 40% karena kerusakan bisa diprediksi dan dicegah sebelum benar-benar terjadi. Di sisi lain, startup seperti Nuro telah menghadirkan kendaraan tanpa pengemudi khusus pengantaran yang sepenuhnya digerakkan oleh robotika dan machine learning, membawa konsep mobil pintar keluar dari pabrik ke jalan raya dengan aman dan legal.

    Namun, transformasi ini tak luput dari tantangan. Isu keamanan siber menjadi prioritas, terutama ketika kendaraan terhubung ke jaringan internet. Selain itu, perubahan ini memerlukan tenaga kerja yang melek digital dan mampu beradaptasi dengan peran baru dalam ekosistem pabrik pintar. Justru di sinilah kolaborasi antara manusia dan mesin menemukan bentuk terbaiknya: bukan sebagai pengganti, tapi sebagai mitra yang saling mengisi.

    AI dan robotika bukan hanya merombak bagaimana mobil dibuat, tapi juga bagaimana mobil hidup dalam keseharian kita. Mereka menghadirkan efisiensi, ketepatan, dan kecerdasan yang belum pernah ada sebelumnya. Dari lantai pabrik hingga dashboard kendaraan, teknologi ini menghadirkan era baru otomotif yang lebih cepat, lebih aman, dan lebih pintar.


    Referensi Ilmiah
    1. Vaidya, S., Ambad, P., & Bhosle, S. (2018). Industry 4.0 – A Glimpse. Procedia Manufacturing.
    2. Dai, H. N., et al. (2019). Artificial Intelligence for the Internet of Vehicles: A Survey. IEEE Access.
    3. Ivanov, D., & Dolgui, A. (2020). A digital supply chain twin for managing the disruption risks and resilience in the era of Industry 4.0. Production Planning & Control.
    4. Wang, Y., et al. (2020). Smart manufacturing and intelligent manufacturing: A comparative review. Engineering Science and Technology.
    5. Thoben, K. D., Wiesner, S., & Wuest, T. (2017). “Industrie 4.0” and smart manufacturing–A review of research issues and application examples. International Journal of Automation Technology.
Secret Link